CATATAN CINTA UNTUK IBU
Damar Kembang*
Aku memujamu dengan api ini, anakku.
Sebab aku tahu rahasia pendar damar
pada sumbu kapas yang desisnya
terdengar. Di atas sekerat daun lontar dan
jelantah itu, suluh damar menjadi kompas
bagiku, dan kusulut ia bagi jiwamu, agar
nyala dan terangnya meresap ke dasar
hatiku.
Bila api menggeliat di udara: ke kanan
dan ke kiri. Ia melarut jiwa. Kau pasti
bahagia di sana. Dan bila ia mati, kusulut
lagi, mati lagi; gerimis bening tumpah
dari mataku, memadamkan segala
sukamu.
dan ke kiri. Ia melarut jiwa. Kau pasti
bahagia di sana. Dan bila ia mati, kusulut
lagi, mati lagi; gerimis bening tumpah
dari mataku, memadamkan segala
sukamu.
Bagiku, kau adalah api itu, anakku. Api
yang berkobar di aliran darahku, sumsum
tulang, dan detak jantungku. Garis nasib
yang kau ikuti lajurnya adalah
perpanjangan sumbu yang kau sulut di
rahimku dulu. Karena itu, aku menjagamu
tak mengenal waktu.
yang berkobar di aliran darahku, sumsum
tulang, dan detak jantungku. Garis nasib
yang kau ikuti lajurnya adalah
perpanjangan sumbu yang kau sulut di
rahimku dulu. Karena itu, aku menjagamu
tak mengenal waktu.
Kendal, 27 Juli 2016
***
Apa yang kamu rasakan ketika kamu pulang
kampung? Begitu kamu tiba di rumah asalmu. Rumah yang menyimpan jutaan
kisah masa kecil. Rumah yang menyimpan kasih sayang dan rumah yang
membentukmu sebagaimana capaian-capaianmu hingga hari ini.
Di depan pintu atau di halaman depan,
berdiri seorang perempuan yang cantiknya melebihi kecantikan semua
pesona perempuan yang paling memesona di dunia ini. Ia menyambutmu
dengan hati bahagia. Ia menyambutmu dengan penuh rasa hormat. Ia
menyambutmu dengan penuh rasa kangen. Ia menyambutmu dan anak-anakmu. Ia
menyiapkan makanan kesukaanmu. Bahkan bisa jadi, ia ingin menyuapimu
sebagaimana ia menyuapimu di waktu kecil.
Bahkan kadang ia memanjakanmu. Ia membuka kancing bajumu agar kamu tidak sumuk.
Ia mengambilkanmu minum. Ia melakukan segalanya yang ia bisa lakukan
untukmu. Masih ingatkah peristiwa-peristiwa ini di tengah kesibukanmu di
rantau? Masih ingatkah bagaimana ibumu menyambutmu?
Dan di saat kamu harus kembali ke
rantau, di saat jubelan pekerjaanmu yang menumpuk itu menunggumu, kamu
harus segera kembali, ibumu menyiapkan oleh-oleh. Mungkin saja barang
yang diberikannya padamu dapat kamu beli dengan sejumlah uang di
dompetmu. Tapi ukuran kasih sayang yang diberikan ibumu tidak sebanding
dengan semua harta yang kamu miliki. Harga kasih sayang ibumu tidak
dapat dibeli dengan seluruh harta yang kamu miliki.
Dan kini, waktu menuntutmu untuk segera
kembali. Jam keberangkatanmu sudah tiba. Mobilmu sudah menyala di
halaman. Lalu kamu, ayahmu, ibumu, istrimu, dan anak-anakmu diminta
untuk masuk di sebuah kamar. Ayah dan ibumu duduk di sebuah kursi.
Sementara kamu, istrimu, dan anak-anakmu duduk menghadap mereka.
Pelan-pelan ayahmu mengangkat tangannya
untuk keselamatanmu di perjalanan. Setelah ayahmu berdoa selesai, kini
ibumu yang menengadahkan tangan. Matanya terpejam. Ia terus merapal
segala doa yang ia bisa. Ia terus berusaha tegar. Tetapi perlahan-lahan,
butiran-butiran air mata pelan-pelan mengalir. Dan mungkin saja anakmu
yang belum mengerti apa-apa secara spontan akan berkata, “Mbah! Mbah
kenapa kok menangis?”
Setelah doa usai dipanjatkan, semua yang
ada di dalam ruangan itu beranjak menuju halaman. Kamu dan istrimu
mulai bersalaman kepada mereka. Anak-anakmu mulai naik ke dalam mobil.
Kamu pun segera menaiki mobil.
Lihatlah, ibumu masih mencium
anak-anakmu, mencium cucu-cucunya yang ia sayangi. Lihatlah mata ibumu
yang berkaca-kaca. Lihatlah dengan mata hatimu. Betapa berat ibumu
melepas kepergianmu. Betapa berat ibumu menyongsong jarak. Tapi atas
nama seorang ibu yang tidak ingin memaksa anaknya untuk bersamanya. Ia
tidak melakukan apa-apa kecuali air mata dan kilau doa.
Mobilmu pelan-pelan berjalan. Kamu,
istrimu, dan anak-anakmu melambaikan tangan. Kamu melihat butiran air
mata ibumu kian lancar mengalir. Dengan sangat berat, ia melambaikan
tangan pula padamu. Dengan sangat berat ia melepasmu. Dan dari lambaian
tangannya yang gemulai, dari bilik hatinya yang sedih, dari bilik
jiwanya yang paling sunyi, ia ingin mengatakan, “Anakku! Jangan pergi!
Jangan pergi!”
Tetapi kamu tidak pernah mendengar suara jiwa itu, atau kamu sengaja tidak mendengarkan suara jiwa itu.
Ingatlah, jika ada seorang anak yang
sukses, itu bukanlah semata-mata kesuksesan anak, tetapi kesuksesan
orang tua. Tetapi bila ada anak yang gagal, itu bukanlah kegagalan orang
tua, melainkan kegagalan anak yang tidak benar-benar menempuh
kehidupan.
“Ibu”:
kalau aku merantau lalu datang musim kemarau
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
sumur-sumur kering, daunan pun gugur bersama reranting
hanya mataair airmatamu ibu, yang tetap lancar mengalir
bila aku merantau
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
sedap kopyor susumu dan ronta kenakalanku
di hati ada mayang siwalan memutikkan sari-sari kerinduan
lantaran hutangku padamu tak kuasa kubayar
ibu adalah gua pertapaanku
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
dan ibulah yang meletakkan aku di sini
saat bunga kembang menyemerbak bau sayang
ibu menunjuk ke langit, kemudian ke bumi
aku mengangguk meskipun kurang mengerti
bila kasihmu ibarat samudera
sempit lautan teduh
tempatku mandi, mencuci lumut pada diri
tempatku berlayar, menebar pukat dan melempar sauh
lokan-lokan, mutiara dan kembang laut semua bagiku
kalau aku ikut ujian lalu ditanya tentang pahlawan
namamu, ibu, yang kan kusebut paling dahulu
lantaran aku tahu
engkau ibu dan aku anakmu
bila aku berlayar lalu datang angin sakal
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
Tuhan yang ibu tunjukkan telah kukenal
ibulah itu bidadari yang berselendang bianglala
sesekali datang padaku
menyuruhku menulis langit biru
dengan sajakku.
Komentar
Posting Komentar