TAK HENTI
“Kamu yakin sama keputusan kamu?”“InsyaAllah. Kamu justru ragu sama jalan yang aku tempuh ini?”“Enggak, apapun keputusan yang kamu ambil, aku doakan itu yang terbaik.”“Makasih…”“Makasih untuk apa?”“Untuk nggak beralasan apa-apa yang bisa menahanku untuk nggak pergi kejar mimpi.”
“Aku suka lihat perempuan yang punya ambisi besar mewujudkan mimpinya, tandanya seorang pejuang.”Wanita tersenyum.Pria membalas senyum.
“Meskipun urusan perasaan ini nggak ada ujungnya, aku harap kita sama-sama paham kalau tidak ada yang bisa mengikat kita saat ini, sampai jelas segala sesuatunya.” Wanita mencoba mengungkapkannya dengan lugas.“Sudah jelas, saat ini tidak bisa. Tidak usah menunggu apa-apa. Satu titik kalau kita ditakdirkan bertemu ya bertemu. Kalau tidak, kita tetap berteman baik.”
“Salam buat ibu ya, Pria.”“InsyaAllah…”
Wanita menutup telpon. Menyeka air mata yang menyembul di ujung pelupuknya. Kembali meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang tepat.Pria di ujung sana, tak henti berusaha berada di tengah-tengah. Tak mau membenci ibunya karena wanita bukan dokter seperti persyaratan mutlak dari orang nomer satu yang dicintainya itu. Juga tak mau menjadi kesal kepada Wanita karena berhenti berjuang. Pria paham, jika diteruskan, pun sampai mereka menikah, nampaknya tak akan jadi baik tanpa ibu yang legawa anak laki-lakinya hidup bersama perempuan yang dasarnya tak beliau suka.
Mereka melanjutkan langkah, kemudian sama-sama paham. Bahwa ini adalah keputusan yang baik. Tak semua urusan perasaan harus berujung pada pernikahan. Sebagian besarnya memang harus larut dengan keikhlasan.Mereka percaya, ada takdir baik yang menunggu di depan.
“Aku suka lihat perempuan yang punya ambisi besar mewujudkan mimpinya, tandanya seorang pejuang.”Wanita tersenyum.Pria membalas senyum.
“Meskipun urusan perasaan ini nggak ada ujungnya, aku harap kita sama-sama paham kalau tidak ada yang bisa mengikat kita saat ini, sampai jelas segala sesuatunya.” Wanita mencoba mengungkapkannya dengan lugas.“Sudah jelas, saat ini tidak bisa. Tidak usah menunggu apa-apa. Satu titik kalau kita ditakdirkan bertemu ya bertemu. Kalau tidak, kita tetap berteman baik.”
“Salam buat ibu ya, Pria.”“InsyaAllah…”
Wanita menutup telpon. Menyeka air mata yang menyembul di ujung pelupuknya. Kembali meyakinkan diri bahwa ini adalah pilihan yang tepat.Pria di ujung sana, tak henti berusaha berada di tengah-tengah. Tak mau membenci ibunya karena wanita bukan dokter seperti persyaratan mutlak dari orang nomer satu yang dicintainya itu. Juga tak mau menjadi kesal kepada Wanita karena berhenti berjuang. Pria paham, jika diteruskan, pun sampai mereka menikah, nampaknya tak akan jadi baik tanpa ibu yang legawa anak laki-lakinya hidup bersama perempuan yang dasarnya tak beliau suka.
Mereka melanjutkan langkah, kemudian sama-sama paham. Bahwa ini adalah keputusan yang baik. Tak semua urusan perasaan harus berujung pada pernikahan. Sebagian besarnya memang harus larut dengan keikhlasan.Mereka percaya, ada takdir baik yang menunggu di depan.
Komentar
Posting Komentar