THE TRUTH ABOUT SOMEONE WHO LEFT


Semarang, 2019

******************************************************************
Introduction

Hi, it’s me.

Aku tidak tahu bagaimana cara untuk mengungkapkannya. Mungkin aku memang pengecut karena aku tidak bisa mengatakannya langsung kepadamu. Sehingga aku membuat tulisan ini agar kau bisa mengerti dan tidak menyalahkan dirimu sendiri. Kau bisa membenciku setelah ini.

Jujur, saat aku pertama kali bertemu denganmu, aku sedang berada di situasi yang buruk, dan jujur saja sampai saat ini aku masih. Tapi saat itu, aku sedang menjadi orang lain dan berpura-pura kalau aku baik-baik saja. Berpura-pura menjadi seseorang yang sempurna agar aku terlihat menarik di matamu. Aku sangat tahu bagaimana membuat tampilanku menarik dan membuat orang-orang terpesona akan bagaimana caraku berbicara, jalan pikiranku sehingga aku seakan-akan adalah pria impian mereka.

Untuk beberapa saat ini mudah, berbohong. Namun, lama-lama aku lelah dengan semua ini. Aku sangat ingin menunjukkan semua sifatku dan melihat apakah kamu akan tetap tinggal setelah melihat kebenaran akan aku. Tapi aku tidak bisa. Aku tidak ingin menunjukkan bahwa pria idamanmu ini ternyata hanyalah seorang pria biasa yang mempunyai banyak baggages.

Tidak ada orang yang mau dengan orang sepertiku. Karena aku sendiri juga tidak mau bersama dengan orang yang sepertiku. Munafik memang. Oleh karena itu, lebih baik kita berhenti. Lanjutkan hidup masing-masing, aku yakin banyak pria yang sempurna di luar sana. Kau pantas mendapatkan yang lebih baik dari aku. Dan jangan berpikir kalau kau yang salah, yang salah itu aku.
******************************************************************
PART 1

Tak apa, bila kamu menginginkan untuk pergi. Pergi tidak selalu berarti kamu sudah tidak peduli. Kamu masih peduli tetapi kamu hanya lelah berjuang sendirian, itu saja. Kamu tahu bahwa seharusnya kamu tetap berjuang demi dia. Bukankah cinta harusnya seperti itu?

Tetap berjuang meskipun hanya kamu yang berjuang?

Tetap memaafkan meskipun sudah tersakiti berulang kali?

Menjadi yang paling tulus meskipun dia tidak?

Tapi apakah perjuangan ini akan berarti bila dia tidak mencintaimu?

Tak apa, bila kamu ingin pergi dari sebuah janji yang telah diingkari. Karena masalahnya bukan di dirimu, niatmu sudah baik, hanya saja akan lebih baik bila kamu berjuang bersama-sama dengan dia yang mau memperjuangkanmu.

******************************************************************
PART 2

Mereka bilang, “Enak ya jadi pihak yang mutusin, gampang, gak perlu mohon-mohon buat mempertahanin hubungan.”

Aku bisa bilang kalau apa yang mereka katakan itu salah. Menjadi pihak yang memutuskan untuk pergi itu tidak enak. Sama sekali.

Jika ada yang bertanya, lalu mengapa dilakukan? Aku akan menjawab karena aku tidak ingin menyakitinya lebih lama lagi.

Lalu aku mendengar banyak orang yang menyesal karena mereka yang diputuskan duluan, mengeluh kenapa bukan mereka yang memutuskan lebih dulu. Aku benar-benar ingin berteriak kepada mereka bahwa sungguh, tidak enak memutuskan duluan.

Mereka tidak mengerti kalau meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Sama saja sakitnya dengan ditinggalkan. Tapi tidak ada yang bertanya apakah aku baik-baik saja, karena orang yang memutuskan pergi harusnya tidak kenapa-kenapa, bukan?

Mereka tidak tahu bahwa sulit sekali berpura-pura bahwa aku sudah tidak peduli saat aku mematahkan hati dan menghancurkan mimpi-mimpinya.

Mereka tidak tahu betapa seringnya otakku bertanya-tanya apakah aku melakukan kesalahan dengan memutuskan dia. Apakah aku melewatkan kesempatanku dengan melakukan hal yang bodoh seperti ini? Apakah aku menghancurkan hidupnya dan dia tidak akan bisa bahagia? Namun aku tidak bisa menemukan jawaban atas pertanyaan-pertanyaan tersebut karena orang yang memutuskan tidak berhak bertanya-tanya, bukan? Jika orang seperti aku bertanya-tanya, maka akan dimaki-maki dengan perkataan, “Kalau ragu begitu, jangan mutusin!”

Meninggalkan itu lebih susah daripada ditinggalkan. Saat kamu ditinggalkan maka kamu jatuh, menangisi kepergiannya, mencoba move on, gagal move on, menangis lagi dan pada akhirnya kamu bisa bangkit dan berdiri lagi. Tapi kalau meninggalkan, itu butuh keberanian. Keberanian untuk pergi tanpa kesempatan untuk bertanya-tanya ataupun penyesalan.

******************************************************************
PART 3

Sejujurnya aku tidak pernah ada keinginan untuk menjadi tokoh antagonis di dalam kisah hidupmu. Bahkan tidak pernah terlintas sekalipun di benakku, kemauan untuk diingat sebagai orang yang pernah mematahkan hatimu.

Aku masih ingat betul saat kita pertama kali bertemu di perpustakaan. Kita merebutkan buku pelajaran yang sama dan kita diusir dari perpustakaan karena kita membuat keributan. Sejak saat itu kita bersahabat dekat. Kita sering pulang sekolah bersama karena searah. Di sepanjang perjalanan menuju rumah, kita mengisi kekosongan dengan bercakap-cakap.

Percakapan kita sering menyangkut akan bayangan kehidupan kita di masa depan nanti, bagaimana persahabatan kita akan tetap erat setelah lulus sampai saat kita sudah tua dan sudah mempunyai keluarga masing-masing. Membayangkan kalau anak-anak kita nanti juga akan bersahabat dekat seperti kita dulu.

Namun, seiring berjalannya waktu, perubahan kecil di sana sini mulai terlihat. Dan percakapan kita akan bayangan masa depan pun sudah tidak lagi sama. Kamu berubah dan mulai sering memberikan sinyal yang menunjukkan bahwa kamu mempunyai rasa yang lebih dari seorang sahabat. Kamu mengatakan kalau kamu menyukaiku. Aku bilang kalau bukan itu yang aku inginkan darimu. Aku hanya memandangmu sebagai sahabat.

Kamu tampak bisa menerima itu pada awalnya. Setelah bertahun-tahun lulus, kamu masih terus hadir di sampingku. Namun, saat kamu mengetahui bahwa aku mulai menyukai pria lain, kamu berubah. Percakapan yang tadinya panjang kini hanya seperlunya saja dan beberapa kali aku menangkapmu memandangku dengan penuh harap. Dan dari sorot matamu terlihat kalau kamu menyalahkan aku karena tidak bisa membalas perasaanmu.

Di situ, aku tahu kalau aku harus mengakhiri ini semua dan pergi dari kehidupanmu. Karena jika tidak, kamu akan terus bersikeras untuk berada di sampingku. Aku tidak ingin ketika nanti kamu bertemu dengan pasanganku, kamu akan bersikap dingin dan membuat keadaan tidak nyaman. Aku tidak ingin ketika kamu bertemu dengan anak-anakku nanti, kamu akan berharap kalau mereka adalah anak-anakmu. Aku tidak ingin kamu hidup sendirian, tidak ada yang menemani karena kamu masih terus menaruh perasaan kepadaku.

Oleh karena itu, aku pergi. Lebih baik aku mengakhiri semua ini sekarang agar kamu bisa mencari kebahagiaanmu sendiri. Lebih baik aku mengakhiri semua ini sekarang agar kamu bisa mulai menatap masa depan, bukan terus melihat ke masa lalu kita.

Maaf, aku tidak bisa menjadi sumber kebahagiaanmu.

Maaf, aku tidak bisa menjadi masa depanmu.

******************************************************************
PART 4

Aku pergi.

Agar aku bisa bahagia.

Tanpa harus kehilangan diriku sendiri.

.

“Jika seseorang marah padamu, itu tandanya kalau dia sangat sayang padamu.”

Kalimat itu tertanam begitu dalam di otakku sehingga saat kamu marah kepadaku, aku berpikir, “Berarti ini adalah tanda cintanya dia kepadaku.”

.

Suatu hari, saat aku bilang aku ingin pergi bersama teman-teman SMAku, kamu memintaku untuk menghabiskan waktu denganmu karena kamu sangat rindu denganku. Aku pun menolak karena aku dan teman-temanku sudah merencanakan acara ini dari sebulan yang lalu, aku pun sudah menceritakan kepadamu tentang rencanaku dari awal. Lalu kamu marah besar sampai mengancam untuk putus dariku. Hingga akhirnya, aku pun terpaksa membatalkan janji itu dan tidak jadi pergi walaupun teman-temanku kesal denganku.

“Mereka tidak mengerti bagaimana rasanya dimabuk asmara. Tidak apa jika mereka marah, yang penting masih ada kamu di sisiku. Aku beruntung bisa menjadi pacarmu,” pikirku.

.

Lalu pada suatu malam, saat aku harus lembur di kantor sampai larut malam, kamu datang menjemputku dan menyuruhku untuk segera pulang. Kamu beralasan takut aku kenapa-kenapa jika pulang terlalu malam. Aku bilang tidak bisa karena laporan itu masih belum selesai dan besok sudah harus diserahkan kepada atasanku. Kamu marah dan meminta nomor atasanku agar diberikan keringanan. Aku tidak ingin membuat keributan di kantor baruku dan terpaksa aku meminta maaf kepada rekan kerjaku karena harus pulang lebih cepat.

“Dia sangat cinta padaku rupanya sampai tidak membiarkanku pulang malam,” pikirku waktu itu.

.

Namun lama-lama amarahmu semakin tidak masuk akal.

Saat aku menertawakanmu yang tidak sengaja membenturkan kepalamu di lemari, kamu memukul kepalaku dengan sangat keras hingga aku terdiam dan dibingungkan dengan apa yang baru saja terjadi. Melihatku yang tertegun seperti itu, kamu seperti panik dan langsung memohon maaf padaku. Kamu memelukku dan bilang kalau kamu tidak sengaja memukulku dengan sangat keras, kamu khilaf. Kamu berjanji tidak akan mengulanginya lagi padaku.

Dan aku langsung percaya dengan apa yang kamu katakan.

.

Betapa salahnya aku waktu itu.

.

Waktu demi waktu berlalu, secara tidak sadar aku sudah dikontrol sepenuhnya olehmu. Dari cara berbicara denganmu sampai cara aku berbusana di depan kolegamu. Jika aku salah sedikit atau tidak patuh pada aturanmu maka kamu akan menamparku atau mencemoohku sampai aku kembali patuh. Aku harus berdandan secukupnya saja, jangan terlalu cantik karena kamu takut akan ada temanmu yang naksir denganku.

Teman-temanku sudah tidak tahan karena aku tidak pernah datang setiap ada acara kumpul bersama karena kamu selalu saja ada cara untuk membuatku tidak bisa datang ke acara itu.

Aku juga dilarang berbicara dengan laki-laki lain kecuali ada kamu di sisiku sehingga aku diminta untuk mengundurkan diri dari pekerjaanku karena tidak bisa berbaur sepenuhnya dengan rekan kerjaku. Kamu bilang tidak apa-apa saat aku kehilangan pekerjaanku, dengan begitu aku bisa fokus sepenuhnya kepadamu.

Aku masih belum sadar bahwa aku telah kehilangan jati diriku sendiri. Aku masih berpikir kamu hanya ingin yang terbaik untukku waktu itu.

.

Hari itu, ada acara keluarga di rumah adikku. Aku diminta datang kesana karena sudah lama aku tidak berkumpul dengan keluargaku. Aku memang sudah lama tidak pulang karena saat terakhir aku pulang, keluargaku mengatakan bahwa sepertinya kamu terlalu mengontrol diriku. Apalagi setelah melihat perubahan pada diriku yang kini menjadi asing untuk mereka. Mereka mengkhawatirkan diriku yang sepertinya tidak bisa lepas dari kamu. Apalagi setelah aku tidak lagi bekerja, aku seperti semakin bergantung denganmu. Orang yang mencintaiku seharusnya bisa menerimaku dengan apa adanya dan tidak mengekangku dari dunia, apalagi keluarga sendiri, begitu kata mereka. Saat itu, aku menganggap ucapan mereka tidak serius, hanya angin lewat.

Namun, saat kamu memintaku untuk menemani kamu pergi ke luar kota saat itu juga, di saat itu aku mulai menganggap ucapan keluargaku serius. Mengapa aku seperti dilarang untuk menemui keluargaku sendiri?

Aku mulai bertanya-tanya kepada diriku sendiri, apakah selama ini aku salah dengan mempercayaimu? Bukankah kamu sangat mencintaiku?

Aku mencoba untuk menolak ajakanmu dan ketika aku menatap wajahmu untuk melihat reaksimu, rasa takutku segera menjalari tubuhku. Aku segera mundur untuk menjauh dari jangkauanmu tetapi aku terlambat. Kamu menamparku dengan sangat keras sampai aku bisa merasakan darah di mulutku. Tidak cukup dengan itu, kamu segera menjambak rambutku dan menyeretku hingga menghantam lemari. Kamu mencaci maki diriku dengan mengatakan kalau aku tidak tahu berterima kasih. Aku dituduh kalau aku sudah tidak mencintaimu. Kamu menghajarku lagi dan lagi hingga aku tidak sadarkan diri.

.

Ketika aku kembali sadar, aku menyadari kalau aku masih berada di tempat yang sama di saat aku kehilangan kesadaran. Aku tidak mendengar suara apapun, itu berarti aku sendirian di rumah ini. Dengan menahan rasa sakit, aku mencoba bangun dari posisiku. Semuanya terasa sakit. Aku menahan tangisku mengemas barang-barangku yang berharga. Kini aku tersadar bahwa selama ini aku salah, kamu tidak mencintaiku seperti yang aku kira.

Aku akan pergi.

Kali ini, aku tidak akan kembali meskipun kamu memohon-mohon padaku untuk kembali.

******************************************************************
PART 5

“Kita putus saja, ya?” ucapku memecah keheningan.

“Apa maksud kamu? Kenapa tiba-tiba minta putus?”

Aku tidak menjawab pertanyaanmu. Genggaman tanganmu aku lepas dari tanganku dan aku mengambil satu langkah mundur agar ada jarak antara kita. Karena jika aku tetap berada di dekatmu, keputusanku bisa menjadi goyah.

Setelah itu, aku memberanikan diri untuk menatap kedua matamu yang kini  penuh akan tanya. “Bukankah kita sudah berjanji untuk terus bersama?” tanyamu lagi.

Betul, kita memang pernah membuat janji untuk terus bersama. Tetapi janji itu kita buat sebelum kehadiran dia. Semenjak dia hadir di kehidupan kita, aku merasa pelan-pelan kamu mulai menjauh dariku. Kamu tidak pernah menunjukkan apapun kecuali senyuman terpaksamu. Aku tidak suka melihatmu berpura-pura tersenyum di depanku, seakan-akan semuanya baik-baik saja. Saat kamu kira aku tidak memperhatikanmu, kamu akan diam melamun, pikiranmu entah kemana, sepertinya sedang pergi ke tempat yang jauh dari sini tanpa aku di dalamnya.

Aku tidak bisa menyalahkanmu karena selama ini aku sudah egois, selalu sibuk dengan kegiatanku sendiri tanpa pernah peduli dengan hari-harimu. Selalu aku yang bercerita dan kamu yang mendengar. Janji itu pun dibuat karena aku yang memaksa agar aku tidak kehilangan dirimu.

Lalu suatu hari, aku melihat kamu tertawa terbahak-bahak dengannya. Baru kali ini, aku mendengarmu tertawa begitu lepas. Seketika aku tersadar bahwa kamu tidak pernah bersikap seperti itu di hadapanku.

Kejadian lain yang membuatku semakin merasa bersalah adalah saat aku memesan makanan dan dia bilang bahwa kamu tidak suka dengan makanan itu. Kamu bilang kalau kamu tidak apa-apa dengan makanan itu tetapi dia bilang kalau kamu berbohong. Lalu dia bercerita kalau kamu pernah makan dengannya dan saat dia memesan makanan itu, kamu bilang tidak suka.

Ternyata aku tidak tahu apa-apa tentang dirimu.

Bahkan dia lebih tahu banyak tentangmu meskipun kamu baru mengenalnya sebentar.

Oleh karena itu, hari ini aku sudah membuat keputusan. Aku akan melepaskanmu dari janji itu agar kamu bisa bebas. Aku tidak ingin kamu terus bersama denganku hanya karena sudah membuat janji itu, di saat aku tahu hatimu sudah memilih dia.

Sudah saatnya untukku berhenti bersikap egois. Kali ini, aku yang akan membuatmu bahagia.

.

Sambil menatap matamu dalam-dalam, aku berkata, “ Aku tahu kalau dia menyukaimu dan aku juga tahu kalau di dalam hatimu sudah ada dia tetapi kamu menolaknya karena ada janji itu. Oleh karena itu, mulai saat ini, aku membebaskanmu dari janji itu.” Aku bisa merasakan di saat itu juga hatiku hancur berkeping-keping. “Terima kasih,” suaraku menjadi serak, “sudah menemaniku selama bertahun-tahun belakangan ini. Aku sangat bersyukur kepada Allah SWT karena sudah memberikan aku kesempatan untuk bisa bersamamu.”

Kamu bergerak maju mendekatiku dan aku mengangkat tanganku agar kamu berhenti. Aku menarik napas dalam agar air mataku tidak tumpah. Aku tidak ingin membuatmu merasa bersalah dan memaksakan dirimu untuk terus bersamaku.

“Sekali lagi, terima kasih atas semuanya. Jaga dirimu baik-baik.” Aku berikan senyuman terakhirku dan tanpa memberikanmu kesempatan untuk bicara, aku pergi.

.

Terima kasih sudah menjadi bahagiaku.

Kali ini, biarkan aku yang membuatmu bahagia.

Dengan kepergianku.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KEHILANGAN DAN MENGIKHLASKAN

HARI KELAHIRAN

SELAMAT ULANG TAHUN