CATATAN CINTA UNTUK IBU
Damar Kembang* Aku memujamu dengan api ini, anakku. Sebab aku tahu rahasia pendar damar pada sumbu kapas yang desisnya terdengar. Di atas sekerat daun lontar dan jelantah itu, suluh damar menjadi kompas bagiku, dan kusulut ia bagi jiwamu, agar nyala dan terangnya meresap ke dasar hatiku. Bila api menggeliat di udara: ke kanan dan ke kiri. Ia melarut jiwa. Kau pasti bahagia di sana. Dan bila ia mati, kusulut lagi, mati lagi; gerimis bening tumpah dari mataku, memadamkan segala sukamu. Bagiku, kau adalah api itu, anakku. Api yang berkobar di aliran darahku, sumsum tulang, dan detak jantungku. Garis nasib yang kau ikuti lajurnya adalah perpanjangan sumbu yang kau sulut di rahimku dulu. Karena itu, aku menjagamu tak mengenal waktu. Kendal, 27 Juli 2016 *** Apa yang kamu rasakan ketika kamu pulang kampung? Begitu kamu tiba di rumah asalmu. Rumah yang menyimpan jutaan kisah masa kecil. Rumah yang menyimpan kasih sayang dan rumah yang membentukmu...